Subscribe:

Senin, 26 Desember 2011

Nasib sial, karena Hukum Karma ??

Kepopuleran istilah KARMA tidak lepas dari peran sastra dan kesalahpahaman awam terhadap konsep karma yg ingin mencari kedamaian hidup dan tertarik dengan aura misteri dan mistik.
Dalam bahasa Sansekerta, karma itu berarti perbuatan. Dalam arti umum, meliputi semua kehendak (baik dan buruk, lahir dan batin, pikiran, kata-kata,atau tindakan). Karma dikenal juga dengan hukum sebab akibat. Mereka yang percaya karma yakin bahwa di masa yg akan datang orang akan memperoleh konsekuensi dari apa yg telah diperbuat di masa lalu. Masa lalu adalah kehidupan sebelum kehidupan sekarang, dan masa depan adalah kehidupan setelah kehidupan kembail. Karma meliputi apa yg telah lampau dan keadaan saat ini yang akan mempengaruhi hal yg akan datang.
Sepintas ajaran ini mirip dengan islam, yg mengenal istilah 'al-jaza' min jinsil amal', bahwa hasil itu sepadan dengan usaha yg dilakukan. Karena dianggap mirip, ada ygkemudian menisbahkan keburukan yang dialaminya sebagai karma atas apa yg telah dilakukannya. Begitupun, ketika melihat bencana yg dialami oleh orang lain, itu dianggap sebagai karma yg harus diterima, sebagai akibat dari perbuatan jahatnya yg telah lalu.
Padahal, ada perbedaan menyolok antara karma sengan kaidah islam tersebut. Karma dengan adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Budha. Karma tidak terpisahkan dengan ajaran reinkarnasi, yang menyatakan bahwa setelah seseorang meninggal akan kembali ke bumi dalam tubuh yg berbeda. Jadi, mereka meyakini hidup berulang kali di dunia, meskipun dengan wujud yg berbeda. Tentang nasib, tergantung karma yg diperbuatnya di kehidupan sebelumnya. Orang yg lahir cacat misalnya, itu karena karma atas tindakkan buruknya di kehidupa sebelumnya. Maka tak heran, belum lama ini seorang warga Thailand menikah dengan Ular, karena meyakini bahwa ular itu adalah titisan orang yg menjadi istrinya di kehidupan sebelumnya. Mengapa jadi ular ?? itu juga karena karma. Yang seperti itu jelas tidak dikenal dalam Islam.
Di dalam Islam, orang yg sudah mati, bukan menjelma menjadi makhluk baru, tapi berada di dalam Barzakh, hungga hari dibangkitkan. Allah Berfirman :"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Wahai Rabbku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yg saleh terhadap yg telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan," (QS. Al-Mukminun;99-100)
Tentang musibah, memang kadang bisa diartikan balasan, tapi kadang pula berarti pembersih dosa, dan terkadang berarti ujian. Seperti yang dialami oleh para Nabi, mereka adalah kaum yg paling berat ujiannya.
Orang yg sudah terlanjur berbuat disapun tidak menutup kemungkinan untuk bertaubat, sehingga efek dosa bisa tercegah, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar