Di antara sebab yg membuat sebagian orang takut kepada Jin adalah keyakinan bahwa Jin tidak bisa mati. Ia hanya menghilang / menjauh ketika kesakitan. Atau seperti digambarkan di fil-film bahwa jin tak bisa disakiti oleh manusia, sedangkan jin dapat menyakiti manusia.
Terbayang pula dibenak mereka, bahwa alam ini di penuhi oleh jin, karena jin juga beranak pinak, mereka ada sebelum manusia ada, lalu mereka tidak mati kecuali pada hari kiamat. Pandangan seperti ini tentu membuat bulu kuduk kita merinding. Tapi, benarkah jin tidak mati kecuali pada hari kiamat ?
Dalil-dalil menunjukkan bahwa jin bisa mati sebagaimna manusia mati. Meskipun umur keduanya bisa jadi berbeda. Di antara bukti yg menunnjukkan hal ini adalah kejadian yg dialami Khalid bin Walid r.a , ketika dia menghancurkan pohon Uzza, dari bawah pohon muncul setan wanita yg kemudian berhasil dibunuh oleh Khalid bin Walid r.a.
Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a, tentang pemuda Anshar yg bergulat dengan seekor ular yg ternyata adalah jelmaan dari jin, beliau mengatakan "...tidak diketahui, mana di antara keduanya yg lebih dahulu mati".. Yakni keduanya terbunuh. Lalu Nabi S.A.W mengabarkan bahwa ular itu berasal dari bangsa jin.
Memang ada satu person dari golongan jin yg kematiannya ditangguhkan oleh Allah hingga hari Kiamat. Dia adalah Iblis, tak ada jin yg lain. Jumlahnya hanya satu. Karenanya tak ada satu dalil pun yg menyebutkan Iblis dalam bentuk jamak (abaalis), yg ada adalah kata tunggal, yakni Iblis.
Tatkala Iblis meminta tangguh kepada Allah, kalimat yg dipakai adalah 'andlirni', dengan menggunaka ya' mutakallim, artinya beri tangguhlah aku (satu orang). Maka Allah menjawabnya dengan "innaka", sesungguhnya kamu (satu orang) diberi tangguh. Perhatikan firman Allah,
"Iblis menjawab :"Beri tangguhlah saya sampai mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yg diberi tangguh". (QS. Al-A'raaf:14)
Dan Iblis termasuk kedalam bangsa jin sebagaimana firman-Nya,
"Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya." (QS. Al-Kahfi:50)
Dari dalil-dalil di atas di jelskan bahwa di kalangan jin hanya Iblis yg diberi umur panjang hingga hari kiamat, sedangkan yg lain bisa mati sebelumnya, seperti halnya manusia. Tidak ada alasan pula bagi manusia untuk takut kepada bangsa jin. Bahkan sebenarnya jin lah yg takut kepada manusia, sebagaimana sebagian dari manusia juga takut kepada jin. Mujahid bin Jabr berkata, "Sesungguhnya jin itu takut kepada kalian, sebagaimana di antara kalian takut kepada jin"
Wallahu a'lam.
Tampilkan postingan dengan label Khurafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khurafat. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Desember 2011
Jin tak Akan Mati Sebelum Kiamat Nanti ??
Nasib sial, karena Hukum Karma ??
Kepopuleran istilah KARMA tidak lepas dari peran sastra dan kesalahpahaman awam terhadap konsep karma yg ingin mencari kedamaian hidup dan tertarik dengan aura misteri dan mistik.
Dalam bahasa Sansekerta, karma itu berarti perbuatan. Dalam arti umum, meliputi semua kehendak (baik dan buruk, lahir dan batin, pikiran, kata-kata,atau tindakan). Karma dikenal juga dengan hukum sebab akibat. Mereka yang percaya karma yakin bahwa di masa yg akan datang orang akan memperoleh konsekuensi dari apa yg telah diperbuat di masa lalu. Masa lalu adalah kehidupan sebelum kehidupan sekarang, dan masa depan adalah kehidupan setelah kehidupan kembail. Karma meliputi apa yg telah lampau dan keadaan saat ini yang akan mempengaruhi hal yg akan datang.
Sepintas ajaran ini mirip dengan islam, yg mengenal istilah 'al-jaza' min jinsil amal', bahwa hasil itu sepadan dengan usaha yg dilakukan. Karena dianggap mirip, ada ygkemudian menisbahkan keburukan yang dialaminya sebagai karma atas apa yg telah dilakukannya. Begitupun, ketika melihat bencana yg dialami oleh orang lain, itu dianggap sebagai karma yg harus diterima, sebagai akibat dari perbuatan jahatnya yg telah lalu.
Padahal, ada perbedaan menyolok antara karma sengan kaidah islam tersebut. Karma dengan adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Budha. Karma tidak terpisahkan dengan ajaran reinkarnasi, yang menyatakan bahwa setelah seseorang meninggal akan kembali ke bumi dalam tubuh yg berbeda. Jadi, mereka meyakini hidup berulang kali di dunia, meskipun dengan wujud yg berbeda. Tentang nasib, tergantung karma yg diperbuatnya di kehidupan sebelumnya. Orang yg lahir cacat misalnya, itu karena karma atas tindakkan buruknya di kehidupa sebelumnya. Maka tak heran, belum lama ini seorang warga Thailand menikah dengan Ular, karena meyakini bahwa ular itu adalah titisan orang yg menjadi istrinya di kehidupan sebelumnya. Mengapa jadi ular ?? itu juga karena karma. Yang seperti itu jelas tidak dikenal dalam Islam.
Di dalam Islam, orang yg sudah mati, bukan menjelma menjadi makhluk baru, tapi berada di dalam Barzakh, hungga hari dibangkitkan. Allah Berfirman :"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Wahai Rabbku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yg saleh terhadap yg telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan," (QS. Al-Mukminun;99-100)
Tentang musibah, memang kadang bisa diartikan balasan, tapi kadang pula berarti pembersih dosa, dan terkadang berarti ujian. Seperti yang dialami oleh para Nabi, mereka adalah kaum yg paling berat ujiannya.
Orang yg sudah terlanjur berbuat disapun tidak menutup kemungkinan untuk bertaubat, sehingga efek dosa bisa tercegah, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam.
Dalam bahasa Sansekerta, karma itu berarti perbuatan. Dalam arti umum, meliputi semua kehendak (baik dan buruk, lahir dan batin, pikiran, kata-kata,atau tindakan). Karma dikenal juga dengan hukum sebab akibat. Mereka yang percaya karma yakin bahwa di masa yg akan datang orang akan memperoleh konsekuensi dari apa yg telah diperbuat di masa lalu. Masa lalu adalah kehidupan sebelum kehidupan sekarang, dan masa depan adalah kehidupan setelah kehidupan kembail. Karma meliputi apa yg telah lampau dan keadaan saat ini yang akan mempengaruhi hal yg akan datang.
Sepintas ajaran ini mirip dengan islam, yg mengenal istilah 'al-jaza' min jinsil amal', bahwa hasil itu sepadan dengan usaha yg dilakukan. Karena dianggap mirip, ada ygkemudian menisbahkan keburukan yang dialaminya sebagai karma atas apa yg telah dilakukannya. Begitupun, ketika melihat bencana yg dialami oleh orang lain, itu dianggap sebagai karma yg harus diterima, sebagai akibat dari perbuatan jahatnya yg telah lalu.
Padahal, ada perbedaan menyolok antara karma sengan kaidah islam tersebut. Karma dengan adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Budha. Karma tidak terpisahkan dengan ajaran reinkarnasi, yang menyatakan bahwa setelah seseorang meninggal akan kembali ke bumi dalam tubuh yg berbeda. Jadi, mereka meyakini hidup berulang kali di dunia, meskipun dengan wujud yg berbeda. Tentang nasib, tergantung karma yg diperbuatnya di kehidupan sebelumnya. Orang yg lahir cacat misalnya, itu karena karma atas tindakkan buruknya di kehidupa sebelumnya. Maka tak heran, belum lama ini seorang warga Thailand menikah dengan Ular, karena meyakini bahwa ular itu adalah titisan orang yg menjadi istrinya di kehidupan sebelumnya. Mengapa jadi ular ?? itu juga karena karma. Yang seperti itu jelas tidak dikenal dalam Islam.
Di dalam Islam, orang yg sudah mati, bukan menjelma menjadi makhluk baru, tapi berada di dalam Barzakh, hungga hari dibangkitkan. Allah Berfirman :"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Wahai Rabbku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yg saleh terhadap yg telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan," (QS. Al-Mukminun;99-100)
Tentang musibah, memang kadang bisa diartikan balasan, tapi kadang pula berarti pembersih dosa, dan terkadang berarti ujian. Seperti yang dialami oleh para Nabi, mereka adalah kaum yg paling berat ujiannya.
Orang yg sudah terlanjur berbuat disapun tidak menutup kemungkinan untuk bertaubat, sehingga efek dosa bisa tercegah, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)




